Sekolah Jangan Gratis

Saya sering sekali mengikuti diskusi tentang komersialisasi pendidikan di kampus. Banyak orang yang menganggap bahwa komersialisasi pendidikan sangat tidak manusiawi terutama bagi mereka yang tidak mampu dalam hal materi. Menurut saya itu omongan parsial yang hanya melihat dari sisi ekonomis. Bloody hell, saya sangat tidak setuju apabila pendidikan digratiskan. Kalau kamu tidak mampu tapi ingin sekolah sampai jenjang tertinggi carilah beasiswa. Di kampus banyak sekali beasiswa yg dtawarkan baik dari Dikti ataupun bentuk CSR perusahaan. Tinggal bagaimana kita mampu mengakses beasiswa tersebut.

Masalah akan muncul jika pendidikan jadi gratis. Pada masa orde baru, pendidikan sempatĀ  dgratiskan, apa akibatnya? Mahasiswa jadi malas kuliah, bahkan tidak sedikit yang sampai kena DO. Tidak hanya di Indonesia, Amerika dan Jerman pun pernah mengalami nasib serupa.

Dalam kacamata sosiologis untuk mendapatkan reward (penghargaan) maka dibutuhkan cost (pengorbanan). Apabila reward tidak dibarengi dengan cost maka kita akan ogah-ogahan dan cenderung menyepelekan.

Kalau kita bayar SPP tiap semester, kita akan selalu ingat bagaimana perjuangan orang tua menyekolahkan kita. Kadang memang kebijakan yang kita anggap bodoh ada misteri di baliknya

Best of you

Diterbitkan di: on Januari 13, 2012 at 11:21  Tinggalkan sebuah Komentar  

Kesenjangan itu ada

Indonesia memiliki Pendapatan negara yg besar. Pendapatan ini didukung berkat sumber daya alam Indonesia yang bisa dibilang melimpah. Namun, mengapa kemiskinan di Indonesia masih menjadi momok bagi negeri ini? Tercatat pendapatan perkapita Indonesia sangat rendah dibandingkan pendapatan yang diterima negara. Ini membuktikan bahwa kesejahteraan masyarakat di Indonesia tidak merata. Kesenjangan ekonomi sangat lebar melintang. Hanya segelintir orang saja yang menikmati kesehahteraan di negeri ini. Hanya mereka yang memiliki kekuasaan dan barang produksi. Mereka yang tidak memiliki keduanya hanya bisa mengelus dada bersabar dan menunggu belas kasih.

Diterbitkan di: on Desember 29, 2011 at 11:21  Tinggalkan sebuah Komentar  

Panggung Drama PK2 Maba

Bulan Agustus ini dinginnya Kota Malang semakin menusuk. Sepertinya ini adalah salah satu tanda bahwa drama tahunan PK2 Maba dimulai lagi. Raut muka lelah tampak jelas di muka para mahasiswa baru yang pulang menjelang petang. Masih ada tugas yang harus dikerjakan dan masih ada barang yang harus mereka cari malam ini. Rasa takut mengalahkan lelah mereka. Mereka tidak tega melihat muka panitia PK2 Maba yang ramah berubah bengis. Senyum dari panitia adalah keniscayaan yang sulit ditemui. Drama yang panitia mainkan dalam PK2 Maba tahun ini terhitung berhasil bila muncul kesan takut dari mahasiswa baru terhadap panitia.

Dalam pertunjukan drama selalu dimainkan sebuah cerita. Cerita yang dimainkan bertujuan untuk memberi kesan yang baik sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Tidak lupa skenario dipersiapkan agar drama berjalan lancar. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor dalam hal ini adalah panitia PK2 Maba, sedangkan penontonnya adalah mahasiswa baru.

Konsep drama dalam kehidupan sosial manusia ini diperkenalkan oleh Erving Goffman dalam bukunya yang berjudul The Presentation of Everyday Life di tahun 1959. Konsep ini dikenal sebagai dramaturgi. Dramaturgi menjelaskan tentang bagaimana individu tampil di dunia sosial. Sebagai perumpamaan, dunia sosial yang kita alami disamakan seperti dalam dalam drama atau teater. Goffman membagi dua wilayah kehidupan sosial yaitu front stage dan back stage sebagaimana yang memang ada dalam panggung drama.

Keadaan di front stage adalah ketika ada penonton yang melihat saat berada dalam suatu pertunjukan. Perilaku aktor dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil. Segala tindakan dari panitia sangat dijaga, misalnya tidak diperbolehkan bercanda dengan mahasiswa baru atau dengan sesama panitia sekalipun ketika berada di depan mahasiswa baru. Sedangkan back stage adalah keadaan di mana aktor berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Panitia yang pada saat di depan mahasiswa baru bermuka masam dan galak bisa berubah menjadi individu yang menyenangkan dan suka bercanda.

Fokus perhatian Goffman sebenarnya bukan hanya individu, tetapi juga kelompok atau apa yang ia sebut tim. Selain membawakan peran dan karakter secara individu, aktor-aktor sosial juga berusaha mengelola kesan orang lain terhadap kelompoknya, dalam hal ini adalah panitia PK2 Maba. Semua anggota tim mendramatisir suatu aktivitas. Kerjasama tim sering dilakukan oleh para anggota dalam menciptakan dan menjaga penampilan dalam panggung depan. Setiap anggota saling mendukung dan bila perlu memberi arahan lewat isyarat non-verbal. Setiap anggota tim memegang rahasia tersembunyi bagi penonton yang memungkinkan kewibawaan tim tetap terjaga.

Manusia memiliki kemampuan untuk menjadi subyektif (red. kemampuan untuk memilih) namun pada saat menjalankan peran, manusia berlaku objektif, natural, dan mengikuti alur. Misalnya, pada saat mahasiswa baru tidak mengerjakan tugasnya karena kelelahan. Mahasiswa baru tersebut sebenarnya memiliki pilihan, pasrah atau melakukan perlawanan dengan berargumentasi dengan panitia dan meminta kompensasi. Proses subyektif ini akan beralih menjadi objektif saat ia menjalani peran yang dipilihnya tersebut. Misalnya yang ia ambil adalah pasrah karena ia takut kalau ia melawan konsekuensinya lebih parah, atau ia merasa terlalu tergantung kepada panitia karena jika tidak lulus dalam PK2 Maba ini maka mereka harus mengulang kembali. Itulah mengapa dramaturgi disebut memiliki muatan objektif. Karena pelakunya menjalankan perannya secara natural, alamiah, dan mengetahui langkah-langkah yang harus dijalani.

Kesan

Tujuan dari PK2 Maba sesuai dengan namanya, yaitu pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru. Mahasiswa baru yang mengalami transisi tingkat pendidikan dari SMA ke bangku kuliah harus diperkenalkan tentang bagaimana kehidupan kampus, terutama tentang sistem akademik yang sangat berbeda dengan SMA. Melalui PK2 Maba ini diharapkan mahasiswa baru dapat beradaptasi dan berinteraksi dengan cepat dalam kehidupan perkuliahan. Cara yang dilakukan adalah dengan menyampaikan materi dalam 6 hari PK2 Maba ini. Prosesnya adalah dengan melalui banyak drama yang diharapkan mampu membuat mahasiswa baru memperhatikan secara seksama isi dari materi yang disampaikan dalam rangkaian PK2 Maba.

Akhir dari suatu drama adalah kesan yang ingin dimunculkan dari jiwa penonton. Dalam PK2 Maba ini loyalitas menjadi salah satu kesan yang dimunculkan, baik itu loyalitas dalam kelompok, jurusan, fakultas, bahkan almamater Universitas Brawijaya. Pada akhir dari PK2 Maba aktor juga harus meninggalkan kesan yang baik kepada penonton. Setelah PK2 Maba usai, drama pun juga ikut usai. Tidak ada lagi sekat antar panitia dan mahasiswa baru. Semua berjalan lebih natural tanpa dibuat-buat. Tidak ada lagi bentakan, yang ada hanya tegur sapa dan salam hangat.

Diterbitkan di: on September 4, 2011 at 11:21  Tinggalkan sebuah Komentar  

Aktivis dan UAS

Bagi saya sebagai seorang mahasiswa yang biasa saja, menjadi aktivis dan menjadi sadar atas persoalan rakyat tidak berhubungan dengan mengorbankan nilai UAS. Justru tanggung jawab atas tiap langkah yang telah diambil menunjukkan bahwa mereka adalah pemikir dan pejuang. Rakyat Indonesia ke depan membutuhkan penelitian dari jurnalis, dokter, pengacara progresif, ataupun sosiolog. Seperti Karl Marx PhD, dr. Che Guevara, VI Lenin S.H. dan Ir. Soekarno.
Gelar bukanlah titel feodal yg membedakan satu komunitas dengan lainnya, karena bukan itu yang dicari. Namun untuk menuntaskan setiap langkah dan perjuangan sampai penghabisan atas apa yang telah dimulai. Kalau para aktivis bisa menunjukkan bahwa ia tidak kalah dengan yg lain, maka profesi2 penting publik tidak akan dipenuhi hanya oleh orang2 egois.
Aktivis tidak boleh hanya menang pada saat berstatus sebagai mahasiswa, tetapi juga pada saat mereka menjadi pelayan publik. Mereka telah mempunyai perasaan simpatik pada rakyat, percuma jika tidak digunakan. Negara ini tidak hanya butuh mahasiswa aktivis, tetapi juga pejabat aktivis. Mari semua belajar untuk Indonesia yang lebih baik :D .

Diterbitkan di: on Juni 25, 2011 at 11:21  Tinggalkan sebuah Komentar  

Mall, Indikator Pembangunan

Keberadaan Mall (Pasar Modern, Red) Seringkali menjadi acuan seseorang untuk melihat apakah suatu daerah itu sudah maju atau belum. Misalnya ketika saya berbicara dengan teman saya. Dia selalu menanyakan apakah di daerah saya atau daerah teman-teman yang lain memiliki Mall. Sontak saya tidak bisa menjawab, karena daerah saya di Madura memang masih dalam proses pembangunan (Amin).
Mungkin hal ini juga yang menjadi alasan mengapa di daerah seperti Kota Malang berpacu untuk membangun Mall sebanyak-banyaknya. Terhitung hingga saat ini ada 12 Mall di Kota Malang (Mall Malang Town Square, Mall Olympic Garden (MOG), Mall Araya, Mall Sarinah, Mall Malang Plasa, Mall Gadjah Mada Plasa, Mall Mitra I Dept. Store, Mall Carefour Express, Mall Matahari Dept. Store, Mall Ramayana, Plaza Dieng, @MX Mall). Rencananya akan dibangun 2 Mall lagi di atas Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo.
Tidak sedikit masyarakat yang setuju tolak ukur pembangunan dari suatu daerah dihitung dari jumlah Mall yang berdiri di situ. Lihat saja daerah di Jakarta atau Surabaya, Mall berdiri tegak menindih ruang terbuka hijau. Tidak perlu lagi taman bermain, alun-alun, museum, perpustakaan, ataupun pasar tradisional. Karena semua ada di Mall. Saya sendiri tidak tahu harus sedih atau senang dengan pembangunan Mall. Kesedihan saya atas Mall muncul ketika pasar tradisional digusur, pelajar menghabiskan waktunya di Mall, dan tingkat konsumtif wasiat kapitalis yang semakin tidak terkendali. Rasa senang saya atas Mall? biasa aja :D

Diterbitkan di: on Juni 21, 2011 at 11:21  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.