Bagi saya sebagai seorang mahasiswa yang biasa saja, menjadi aktivis dan menjadi sadar atas persoalan rakyat tidak berhubungan dengan mengorbankan nilai UAS. Justru tanggung jawab atas tiap langkah yang telah diambil menunjukkan bahwa mereka adalah pemikir dan pejuang. Rakyat Indonesia ke depan membutuhkan penelitian dari jurnalis, dokter, pengacara progresif, ataupun sosiolog. Seperti Karl Marx PhD, dr. Che Guevara, VI Lenin S.H. dan Ir. Soekarno.
Gelar bukanlah titel feodal yg membedakan satu komunitas dengan lainnya, karena bukan itu yang dicari. Namun untuk menuntaskan setiap langkah dan perjuangan sampai penghabisan atas apa yang telah dimulai. Kalau para aktivis bisa menunjukkan bahwa ia tidak kalah dengan yg lain, maka profesi2 penting publik tidak akan dipenuhi hanya oleh orang2 egois.
Aktivis tidak boleh hanya menang pada saat berstatus sebagai mahasiswa, tetapi juga pada saat mereka menjadi pelayan publik. Mereka telah mempunyai perasaan simpatik pada rakyat, percuma jika tidak digunakan. Negara ini tidak hanya butuh mahasiswa aktivis, tetapi juga pejabat aktivis. Mari semua belajar untuk Indonesia yang lebih baik
.
Aktivis dan UAS
URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://dedyanjing.wordpress.com/2011/06/25/aktivis-dan-uas/trackback/
Setuju banget…
Tapi kebanyakan ketika uda gak jadi mahasiswa semua emang berubah si. idealisme susah sinkron dengan realita hidup yang ada. Hidup keras sangat..:-). Jadi semua tergantung kembali pada kekuatan seseorang dalam memegang prinsip.