Bulan Agustus ini dinginnya Kota Malang semakin menusuk. Sepertinya ini adalah salah satu tanda bahwa drama tahunan PK2 Maba dimulai lagi. Raut muka lelah tampak jelas di muka para mahasiswa baru yang pulang menjelang petang. Masih ada tugas yang harus dikerjakan dan masih ada barang yang harus mereka cari malam ini. Rasa takut mengalahkan lelah mereka. Mereka tidak tega melihat muka panitia PK2 Maba yang ramah berubah bengis. Senyum dari panitia adalah keniscayaan yang sulit ditemui. Drama yang panitia mainkan dalam PK2 Maba tahun ini terhitung berhasil bila muncul kesan takut dari mahasiswa baru terhadap panitia.
Dalam pertunjukan drama selalu dimainkan sebuah cerita. Cerita yang dimainkan bertujuan untuk memberi kesan yang baik sehingga tercapai tujuan yang diinginkan. Tidak lupa skenario dipersiapkan agar drama berjalan lancar. Bila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor dalam hal ini adalah panitia PK2 Maba, sedangkan penontonnya adalah mahasiswa baru.
Konsep drama dalam kehidupan sosial manusia ini diperkenalkan oleh Erving Goffman dalam bukunya yang berjudul The Presentation of Everyday Life di tahun 1959. Konsep ini dikenal sebagai dramaturgi. Dramaturgi menjelaskan tentang bagaimana individu tampil di dunia sosial. Sebagai perumpamaan, dunia sosial yang kita alami disamakan seperti dalam dalam drama atau teater. Goffman membagi dua wilayah kehidupan sosial yaitu front stage dan back stage sebagaimana yang memang ada dalam panggung drama.
Keadaan di front stage adalah ketika ada penonton yang melihat saat berada dalam suatu pertunjukan. Perilaku aktor dibatasi oleh oleh konsep-konsep drama yang bertujuan untuk membuat drama yang berhasil. Segala tindakan dari panitia sangat dijaga, misalnya tidak diperbolehkan bercanda dengan mahasiswa baru atau dengan sesama panitia sekalipun ketika berada di depan mahasiswa baru. Sedangkan back stage adalah keadaan di mana aktor berada di belakang panggung, dengan kondisi bahwa tidak ada penonton. Panitia yang pada saat di depan mahasiswa baru bermuka masam dan galak bisa berubah menjadi individu yang menyenangkan dan suka bercanda.
Fokus perhatian Goffman sebenarnya bukan hanya individu, tetapi juga kelompok atau apa yang ia sebut tim. Selain membawakan peran dan karakter secara individu, aktor-aktor sosial juga berusaha mengelola kesan orang lain terhadap kelompoknya, dalam hal ini adalah panitia PK2 Maba. Semua anggota tim mendramatisir suatu aktivitas. Kerjasama tim sering dilakukan oleh para anggota dalam menciptakan dan menjaga penampilan dalam panggung depan. Setiap anggota saling mendukung dan bila perlu memberi arahan lewat isyarat non-verbal. Setiap anggota tim memegang rahasia tersembunyi bagi penonton yang memungkinkan kewibawaan tim tetap terjaga.
Manusia memiliki kemampuan untuk menjadi subyektif (red. kemampuan untuk memilih) namun pada saat menjalankan peran, manusia berlaku objektif, natural, dan mengikuti alur. Misalnya, pada saat mahasiswa baru tidak mengerjakan tugasnya karena kelelahan. Mahasiswa baru tersebut sebenarnya memiliki pilihan, pasrah atau melakukan perlawanan dengan berargumentasi dengan panitia dan meminta kompensasi. Proses subyektif ini akan beralih menjadi objektif saat ia menjalani peran yang dipilihnya tersebut. Misalnya yang ia ambil adalah pasrah karena ia takut kalau ia melawan konsekuensinya lebih parah, atau ia merasa terlalu tergantung kepada panitia karena jika tidak lulus dalam PK2 Maba ini maka mereka harus mengulang kembali. Itulah mengapa dramaturgi disebut memiliki muatan objektif. Karena pelakunya menjalankan perannya secara natural, alamiah, dan mengetahui langkah-langkah yang harus dijalani.
Kesan
Tujuan dari PK2 Maba sesuai dengan namanya, yaitu pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru. Mahasiswa baru yang mengalami transisi tingkat pendidikan dari SMA ke bangku kuliah harus diperkenalkan tentang bagaimana kehidupan kampus, terutama tentang sistem akademik yang sangat berbeda dengan SMA. Melalui PK2 Maba ini diharapkan mahasiswa baru dapat beradaptasi dan berinteraksi dengan cepat dalam kehidupan perkuliahan. Cara yang dilakukan adalah dengan menyampaikan materi dalam 6 hari PK2 Maba ini. Prosesnya adalah dengan melalui banyak drama yang diharapkan mampu membuat mahasiswa baru memperhatikan secara seksama isi dari materi yang disampaikan dalam rangkaian PK2 Maba.
Akhir dari suatu drama adalah kesan yang ingin dimunculkan dari jiwa penonton. Dalam PK2 Maba ini loyalitas menjadi salah satu kesan yang dimunculkan, baik itu loyalitas dalam kelompok, jurusan, fakultas, bahkan almamater Universitas Brawijaya. Pada akhir dari PK2 Maba aktor juga harus meninggalkan kesan yang baik kepada penonton. Setelah PK2 Maba usai, drama pun juga ikut usai. Tidak ada lagi sekat antar panitia dan mahasiswa baru. Semua berjalan lebih natural tanpa dibuat-buat. Tidak ada lagi bentakan, yang ada hanya tegur sapa dan salam hangat.